Widya Arifianti
Onyon happy birthday. Sorry ga bisa ngasih sesuatu yang extravagant maklum gue pelajar pas pasan lol. Akhir akhir ini juga gue ga punya internet jadi gue ga bisa sok sok an buat projek ulang tahun. Tapi gue inget ulang tahun elu salah satu sahabat gue yang paling baik <3
Selamat ulang tahun ya…
“Coba marahnya gimana?” tanya seorang presenter ajang pembuktian bakat pada seorang anak kecil di depannya.
Si anak langsung pasang tampang. Seluruh bagian mukanya ditekuk habis-habisan. Matanya nyalang. Suaranya menggeram kencang.
Tepuk tangan riuh seketika. Seluruh penonton jatuh kagum pada sang anak. Kecil-kecil pandai berakting, katanya. Padahal si anak tak sedikitpun punya niat untuk berakting. Ia hanya melampiaskan emosi pada kedua orangtua yang kini sibuk mengelu-elukannya. Mencetak dirinya untuk jadi palsu
Namanya Mawar. Sampai saat ini orang-orang mengenal dirinya sebagai korban perkosaan oleh seorang kerabat dekat. Peristiwanya sudah terjadi 10 tahun silam. Tertinggal di belakang dan sengaja tidak diungkit.
Hingga saat ini trauma masih membayangi benak Mawar. Kalau saja televisi dan koran-koran keparat itu menyamarkan nama aslinya.
Aku terbangun dari tidurku dan menjadi pemaaf.
Segala masalah seharusnya berjodoh dengan solusi dan aku melewatkannya dengan terlelap. Awalnya khawatir, lalu bingung, lalu memutuskan beristirahat sejenak, pergi tidur dan terlelap. Begitu bangun aku sudah lupa, tanpa sadar bahwa masalah yang sama akan datang memburu tanpa ampun di kemudian waktu. Aku tahu itu, tetapi aku mencoba melewatkannya dengan terlelap.
Terlelap semacam hadiah menurutku. Kita bisa beristirahat sekaligus bermimpi. Sekali bermimpi, sudah itu ketagihan. Dan aku termasuk salah satu pecandunya. Enak sekali rasanya, tanpa berbuat kita sudah mendapat. Tentu saja dalam mimpi.
Dalam mimpi, ada dua jalan yang akan kita pilih. Ini sebenarnya agak seru, tapi tergantung persepsi masing-masing. Jalan pertama namanya jalan menuju keberlangsungan. Kita akan melanggengkan mimpimu dengan melanjutkan terlelap dan bermimpi kembali. Ini sebenarnya agak seru, tetapi sekali lagi, tergantung persepsi masing-masing. Bagaimana dengan jalan kedua? tentunya tidak kalah seru jika kita berhasil membuktikannya. Jalan kedua dinamakan dengan jalan menuju pembuktian. Kita akan bermimpi, terbangun, merasa baru saja terlahir kembali ataupun mendapat wahyu entah dari siapa, lalu mewujudkan mimpi itu.
Hingga saat ini, tak terhitung berapa banyak mimpi yang sudah kubuat. Semacam akumulasi dari petikan-petikan keinginan. Aku bermimpi dan keasyikan dan berjanji pada diriku sendiri untuk mewujudkannya suatu saat. Suatu saat yang entah kapan. Mimpiku bahkan sudah berumur. Ia tetaplah mimpi yang butuh dinyatakan. Itu sebenarnya salah, aku paham.
Seperti yang kukatakan di awal paragraf. Aku terbangun dari tidurku dan menjadi pemaaf. Tak ada niatan untuk menghukum diri yang begitu pemalas bahkan untuk mewujudkan mimpi sendiri. Itu sebenarnya salah, aku paham.
Berhenti menjadi pemaaf kadang perlu adanya, untuk diri yang selalu punya bermacam alasan
Ini adalah tulisan yang berangkat dari sebuah pernyataan di lini masa milik Andina Avika beberapa waktu yang lalu. Ada salah satu menikah jenis baru, yaitu menikahi almamater. Tidak hanya itu, lebih spesifik lagi adalah menikahi almamater-jurusan-dan profesi.
Semakin kesini, semakin…
Semangat. Atau biasa disebut dengan “cemungudh” oleh sebagian orang. Terdengar klise namun mungkin dibutuhkan. Dalam sehari-hari kita akan selalu menemukan kata-kata ini. Dalam pengucapan lisan, pesan singkat, bahkan status di sosial media. Berdasarkan popularitas, posisi kata ini mungkin bisa disejajarkan dengan kata maaf dan terima kasih.
Ketika melihat teman yang sedang kesulitan ataupun menghadapi hal-hal terberat dalam fase hidupnya, saya -mungkin kita- secara spontan akan mengucapkan kata ini. Dan sebaliknya, ketika saya tengah kesulitan pun menghadapi hal-hal terberat dalam fase hidup saya, mereka -mungkin kalian- secara spontan akan melontarkan kata-kata ini pada saya. Intinya saya sudahmengalami keduanya. Sebagai orang yang menyemangati dan disemangati.
1 kata 8 huruf. Semangat. Terkadang orang menyingkatnya dengan menghilangkan “se” sehingga terucaplah kata “Mangat”. Kalau mau lebih sok asik, tambahkan kata “yaw” di depannya sehingga jadilah kata “Mangatyaw.” Sebagai sentuhan terakhir, tambahkan tanda seru sesuai selera.
Bebas. Layaknya kata “maaf” dan “terima kasih” yang bebas dimodifikasi, kata semangat mengalami degradasi makna. Ia layaknya pelengkap suatu kalimat dalam pergaulan akrab masa kini. Saya sendiri kadang senang kadang jengkel bila disemangati. Senang karena diberi suntikan motivasi, jengkel karena merasa kata tersebut tak lebih dari basa-basi.
Namun kejengkelan itu bukanlah suatu hal yang saya anggap serius. Biasa saja kecuali bila kata “Semangat” diucapkan ketika saya tengah terdesak, mengatasi sebuah hal sulit di depan mata, dan sekumpulan teman menyemangati sekaligus menunggui saya yang gagal berkali-kali.
“Semangat.”
“Kamu pasti bisa…”
Ketika mendengar kata-kata itu rasanya saya teringat akan diri yang begitu payah sekaligus panik akan tuntutan di depan mata.
Maka dari itu, jika suatu hari saya menemui teman yang mengalami kejadian serupa seperti yang saya alami, saya hanya akan diam, membantu sebisanya, sambil mendoakan.
*tulisan di atas cuma opini, jangan diambil hati
X: Kamu sama dia teh asalnya temen SMA?
Y: Bukan
X: Temen bimbel?
Y: Bukan juga
X: Temen apaan atuh, kok bisa tiba-tiba jadian?
Y: Teman hidup
Aku iri pada Hansel dan Gretel.
Dengan kepanjangan akalnya mereka menyebarkan remah-remah roti agar tahu jalan pulang. Andai saja aku melakukan hal yang sama. Menyebarkan remah-remah roti. Agar tahu kemana jalan menuju rumah.Berpulang pada diriku yang sebenarnya.
“Nak ini Mama, tolong folbek ya. Tks”
Baru-baru ini Mama punya twitter, biar nggak kalah sama SBY katanya. Toh zaman sudah berkembang. Imbasnya si Adek jadi jarang main game sekarang karena komputernya dipakai Mama. Aku pun ikut kena imbas. Mama menjejaliku segudang pertanyaan tentang tata cara penggunaan komputer. Dari mengetik sampai mengirim tweet. Haduh repotnya. Ketika tahu fitur follow-followan di twitter. Mama langsung melejit gembira. Baginya, fitur follow adalah suatu akses untuk menguntit segala gerak-gerik anaknya di dunia maya. Hanya dengan mengetik nama lengkapku, terpampanglah sudah kehidupan mayaku di layar komputer si Adek.
Lama kelamaan Mama jadi melek teknologi. Aku mulai takut. Itu tandanya ia semakin punya akses untuk mengikuti keseharianku. Dan ketakutanku pun datang pada hari ini. Dimana Mama memintaku untuk menguntit balik kehidupan sehari-harinya di ranah maya. Dengan iseng kutekan tanda follow di halaman profile Mama. Luar biasa, ilmu yang ia dapatkan di les bahasa inggris singkat dua puluh tahun silam keluar semua. Aktivitas sehari-harinya mulai dari memasak, pergi ke pasar, nongkrong-nongkrong sama ibu-ibu kompleks, sampai mengeluhkan abang sayur yang jarang nongol akhir-akhir ini ditwitkan semua. Dalam bahasa Inggris.
Followers Mama pun mulai banyak. Dirinya semakin enggan beranjak dari kursi komputer si Adek. Dan si Adek terpaksa bermain dengan play station lamanya. Lengkap sudah. Semua orang di rumah ini resmi anti sosial di dunia nyata. Papa dengan laptopnya, aku dengan blackberry, adek dengan playstation, dan Mama dengan komputer (yang dijarah dari si Adek).
Sebenarnya aku agak terganggu dengan Mama yang kaget online.Tapi mau komplain pun tidak ada keluhan yang berarti. Meskipun aktif bergaul di dunia maya, Mama tetap tidak melupakan kewajibannya. Begitu aku pulang sekolah, makan siang sudah tersedia di meja makan, pakaian untuk sehari-hari tertata rapi di lemari baju, dan rumah kami masih tetap cling-cling.
Mama pun terbuka pada teman-temannya soal perkembangan anggota keluarganya. Tentang Adek yang sebentar lagi masuk SMA, tentang Papa yang ganti mendukung klub bola lain karena klub bola yang selama ini dielu-elukannya kalah, dan tentang aku yang katanya sudah mulai sibuk sendiri. Yang terakhir agak mengiris hatiku. Beliau bilang begitu seolah dia tidak sibuk sendiri saja. Kalau aku sibuk ada maknanya, organisasi lah bikin proker lah. Kalau Mama? Sibuk ngetwit!
Langsung saja kubuka profile Mama, kutekan tombol following sampai berubah menjadi follow saja. Rasanya Mama tidak akan menyadari bahwa followersnya berkurang karena akhir-akhir ini kulihat Mama memperoleh banyak followers baru, Hasil brainwash-nya pada ibu-ibu arisan. Supaya cepat bikin twitter. Supaya tidak ketinggalan zaman, begitu mungkin katanya.
Bagaimana dengan twitterku? Tidak ada yang berubah kecuali angka followingku. Dengan akun Mama yang resmi sudah terjegal dari daftar followingku. Rasanya beban sedikit berkurang dengan tidak mendengar kicauannya di dunia maya karena kicauannya di dunia nyata pun sudah masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Layar ponsel pun menunjukkan notifikasi baru. Ada sebuah mention datang dari Mama. Panjang umur serta mulia benar dirinya. Aku pun mengeceknya:
“Follow me back or not is up to you, I just wanna be ur fellow”
Kulangkahkan kaki untuk membuka pintu, menengok keluar kamar yang menyediakan pemandangan ruang keluarga. Disana ada satu set meja komputer dan Mama yang mengetik dengan gaya khasnya. Tak ada seorang pun yang menemani. Papa pasti belum pulang dan si Adek pasti sedang kelayapan ke rumah temannya. Dan aku diam di kamar, meninggalkannya. Demi sebuah privasi yang kujunjung tinggi.
Kali ini aku menyadari. Ia punya twitter bukan sekadar untuk mengikuti perkembangan zaman apalagi untuk in-touch sama SBY. Ia kesepian.
Ia sangat kesepian.
Orang yang berpikir sok dewasa, mengatakan bahwa dewasa itu tidak lagi bertingkah seperti anak-anak.
Kasihan sekali engkau duhai orang dewasa, yang menganggap dewasa diukur dari tingkah laku. Mari sedikit aku ajak jalan-jalan.
Kau tau, aku masih bermain dengan…