Being adult are befriend with some experiences, forget the sullen past and get the lessons from it, and…aware to the future 

2 notes

Comments

Ya Tuhanku yang kucinta, jangan biarkan cinta membuat aku mempertuhankan dia yang kusayangi 

1 note

Comments

Anggota DPR zaman sekarang itu seharusnya ikut pelatihan…pelatihan memandikan mayat, biar sadar mereka kalau hidup itu nggak abadi dan pertanggungjawaban setelah mati itu lebih berat

Seorang Dosen Sistem Politik Indonesia 

1 note

Comments

Anak Titipan

  • Gw: Bu, Ibu sayang nggak sama aku?
  • Nyokap: Ya sayang lah, kok nanyanya gitu?
  • G: Masak? Jangan-jangan aku anak titipan
  • N: Ih, anak titipan dari mana? kalo anak titipan nggak mungkin nama ibu ada di akte
  • G: Iya kan, aku anak titipan?
  • N: Nggah ah
  • G: Iya kan? Titipan Tuhan...
  • N: ...

2 notes

Comments

Keyakinan bagi saya… seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya; mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut

Valiant Budi

Comments

2 notes

Comments

…bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia di luarmu dan di dunia di dalammu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga.

Farida Susanty

1 note

Comments

an angle from the victim

I’m supporting the SHP (Stop Heart Piracy) and POH (Protect Our Heart) instead of supporting the PIPA and SOPA thingies

1 note

Comments

Video Profile Industri Kreatif Penyiaran Reguler 2010 Universitas Indonesia by Widiani Budiarti

#saveikp 

Plis kalo ada yang nyadar keberadaan gue di video ini, di skip aja guenya nggak banget soalnya hahahahah

Comments

…Kita tidak tahu seberapa dekat kita dengan jodoh, kesuksesan, dan kematian…

7 notes

Comments

Tentang #Prose

Demi melatih teknik penulisan gue yang suram buram merana, gue memutuskan untuk menulis prosa. Rencananya gue mo bikin #dailyprose tapi mengingat tingkat keprocrastinate-an gue dan kemalasan gue juga lack of internet connection gue memutuskan untuk nggak nargetin perhari tapi seenggaknya tiap minggu ada lah…

hahaha jadi dari sekarang gue mau sorry menyori nih kalo tulisan sampis gue mejeng di dashboard anda semua. Itu semua bagian dari belajar

itu semua bagian dari #prose(s) :)

untuk kali ini gue berniat membuat prosa bersambung dengan judul High School Never Ends (HSNE) sebagai buah dari kangennya gue sama masa SMA, kecacatannya, kesotoyannya, kesetiakawanannya, de el-el

Jadiii….Mohon kripik dan makanannya  kritik dan sarannya yaah :D

Regards,

Hamba Allah 

Comments

#Prose:High School Never Ends (Part I)

Bangun pagi itu nikmat*

*terms and conditions apply

asal…bangunnya nggak dipaksa dan terbangun karena mimpi indah yang sudah sampai endingnya. Pagi ini, gue nggak mendapatkan keduanya. Gue bangun pagi karena dipaksa bangun ama nyokap. Untuk yang satu ini, gue nggak terlalu menyesal sih karena jeritan nyokap yang ultrasonik itu berhasil menyelamatkan gue dari nightmare yang sepertinya nggak berkesudahan.

Let’s make it simpler…bangun pagi gue kali ini nggak nikmat.

berbeda dengan bangun pagi-bangun pagi gue sebelumnya mengingat sebulan silam gue menghabiskan waktu liburan panjang. Gue rasa dinas pendidikan kota manapun punya alasan untuk membuat interval waktu liburan anak-anak SMP yang baru lulus SMP lebih panjang dari biasanya. pertama, mereka harus berjuang cari tempat menuntut ilmu baru dan daftar ulang di SMA tersebut (itu juga kalau NEMnya mencukupi). Kedua, mereka butuh masa transisi dari putih biru ke putih abu-abu. Bagi yang cowok, mereka butuh waktu untuk membiasakan lutut seksi mereka tertutup kain yang lebih panjang. Bagi cewek, lain lagi. Meskipun mereka kayaknya tetap memakai posisi yang sama ketika buang hajat, mereka harus membiasakan diri untuk memakai rok span dengan satu stooploi yang mana hal tersebut bakal bikin ruang gerak mereka lebih terbatas daripada ketika memakai rok span biru dongker dengan dua stooploi

Tapi tentu tidak secemen itu indikator transisi anak-anak SMP di Indonesia. Mereka dihadapkan pada beban mental baru: jadi anak SMA. Otomatis tanggung jawabnya lebih besar. 

Anak SMA tetap sekolah di sekolah menengah, tapi menengah atas. Di masa ini, harusnya anak SMA sudah terbiasa mengalami masalah pubertas yang menurun ke hati. Mengatasi bagaimana rasanya cinta yang turun dari mata ke hati dan berakhir dari hati ke air mata. Harusnya…

Harusnya gue akan seperti itu. 

Mengatasi masalah hidup dengan lebih canggih, nggak secemen nabokin musuh, nggak secemen buka contekan pas waktu ulangan, nggak secemen ngutang ama ibu kantin ketika nggak punya uang.

Dan inilah gue, Adit. 15 tahun.

baru lulus SMP, baru selesai liburan, dan akan menghadapi hari pertamanya di SMA.

Sekolah Menengah Atas.

***

“Dit, kamu yakin nggak mau pake baju putih abu? Padahal Mama udah beliin tuh,” ucap Nyokap yang udah bekal satu stel seragam buat gue. Gue lihat jok belakang mobil gue yang didiami satu stel seragam SMA. Gue menggeleng sambil memperhatikan situasi di depan sekolah baru gue, “Orang belum disuruh, Ma…Ntar aja kalo panitia OSPEKnya ngebolehin baru Adit pake seragamnya…”

Nyokap mengangguk.

“Ati-ati ya, Dit…” ucap Nyokap sebelum gue keluar mobil. Gue mencium tangannya dan dia ngotot pengen cium pipi gue. Asalnya gue mengizinkan nyokap melakukan itu, tapi gue batalkan izin itu ketika gue lihat seorang cowok seumuran gue dengan baju putih biru memarkir motornya di depan mobil gue, melepas helmnya dengan macho, dan terlihat seperti anak keren yang siap hidup. kontras dengan gue yang berada di bawah belaian nyokap. 

“Aku buru-buru, Ma…” kata gue sambil buru-buru menutup pintu mobil. Samar, gue denger Nyokap manggil nama gue. Sori Ma, let me be a man.

Gue berlari sekencang-kencangnya ke pintu gerbang SMA gue. Desauan angin berhasil gue hirup. angin antusiasme dan harapan. Berpuluh kaki yang berbalut kain biru dongker berjalan beriringan bersama gue untuk memasuki sebuah aula besar tempat kami dikumpulkan.

Gedung tempat semua ini bermula. Gedung yang sudah terlebih dahulu dipenuhi oleh sekelompok kakak-kakak bertampang sangar. Gue benci ini, tapi gue harus melewatinya.

“Selamat datang di OASIS SMA Negeri 212 Jakarta…” ucap salah seorang kakak yang bertampang paling ramah di antara semua panitia ospek yang sudah berjejer rapi di hadapan kami. Macam cheerleader, Gue rasa mereka pasti udah latihan berkali-kali untuk membentuk formasi serapi itu.

Read More

Comments

Page 1 of 117

1

2

3

4

5

Next ›