#Iseng: 27 Desember

Tidak ada yang istimewa dari tanggal 27 Desember. Tepat 5 hari setelah hari ibu, lalu apa? Tepat 2 hari setelah hari natal, ya semuanya tahu itu. Tapi ada bagian dalam benakku yang secara khusus mencatat baik-baik apa yang pernah kulakukan pada sebuah 27 desember di tahun 2008. 

Pada tanggal 25 Desember 2008 ketika kamu sedang bercengkrama dengan Tuhanmu, meluangkan waktu hanya untuk-Nya. Aku, dengan bodohnya, mengganggu kemesraanmu bersamanya. Kamu, dengan sedikit nada terganggu pada saat itu menanggapi gangguanku. Sebuah meja di salah satu kafe yang kupesan untuk dua hari setelahnya setuju untuk kamu duduki, meja nomor lima. Untuk hanya…berbincang sambil makan malam denganku, untuk hanya mendengar kalau aku…

***

“Cinta kamu…”ucapku mantap pada malam itu. Tanpa sepicing mata pun yang kuberanikan menatap ekspresimu. Kamu kaget, tentu saja iya. Wajar saja bila si bajingan tengik yang baru saja bersahabat denganmu empat bulan lamanya ini tiba-tiba menghajarmu dengan kata cinta.

Makanan yang dipesan khusus untukmu sudah dingin dari kapan waktu. Makanan yang bahan-bahannya kamu custom dan pesan sendiri pada koki restoran ini sejak pertama kali kamu mendatangi restoran ini sehingga jika para pelayan ini melihat langkah kakimu mendekati restoran favoritmu ini, mereka akan berancang-ancang membuatkan fusilli tuna pedas ala Rafika Andari.

Tapi kali ini kamu mungkin kehilangan selera  makan karena kata-kataku. Rasanya susah mengambil kembali kata-kata yang tercerabut begitu saja dari mulut yang gatal ini. 

“Lalu apa?” kamu bertanya kembali. Menantangku.

Untuk pertanyaanmu yang satu ini, aku mati gaya. 

“Aku sayang kamu…” ucapku sekali lagi.

“Iya…lalu apa?” tanyamu.

“Aku-ingin-kamu-jadian-denganku” terbata aku berkata, dan kau malah balik bertanya.

“Apa sekarang kamu menyayangiku?” tanyamu seolah lupa dengan pernyataanku barusan.

“Iya.”

“Sekarang aku siapamu?”

“Teman…” jawabku agak enggan. Jangan sampai hanya gara-gara masalah ini, kamu tega menurunkan pangkat hubungan kita dari sebatas teman.

“Kalau dengan menjadi teman saja kamu menyayangiku kenapa kita tidak berteman selamanya saja?” tanyamu.

“Ini beda…”

“Beda kenapa? Apa kamu akan lebih menyayangiku ketika kita…ehm…misalnya pacaran nanti?”tanyamu sambil membetulkan sedikit lipatan bekas dudukmu di kain dress merah yang kamu pakai pada malam itu.

“Iy-Iya…”jawabku.

“Kalau kita…ehm…misalnya…putus?”

aku terdiam. Segenap kasih sayang yang kupunya untukmu jujur saja tak bisa kujaminkan selamanya.

“Apapun jawabanku malam ini, itu hanya sementara. Aku ingin perasaan yang abadi…”

Aku meresapi kata-katanya sesaat. “Rafika Andari…” aku mengucap nama lengkapnya, sebelum senjata terakhirku kulesatkan. Bila kata adalah peluru, akan kupastikan ia melesat tepat di sanubarinya. 

“Kita sahabat…” ucapnya.

“Tidak kurang dari itu…” sambungnya lagi sebelum aku berhasil melesatkan peluru lagi. 

“Bersulang,” ucapnya seolah mengunci mulutku. Ia mengacungkan gelas winenya yang disambut dengan gelas minuman ringanku. Ketika gelas kami berdenting, ia tersenyum manis.

Manis yang mengalahkan pahitnya kenyataan.

***

Tidak ada yang istimewa dari tanggal 27 Desember. Tepat 5 hari setelah hari ibu, lalu apa? Tepat 2 hari setelah hari natal, ya semuanya tahu itu. Tapi ada bagian dalam benakku yang secara khusus mencatat baik-baik apa yang pernah kulakukan pada sebuah 27 desember di tahun 2008. pada sebuah 27 desember di tahun 2009, dan seterusnya.

Kamu seperti biasa menggunakan dress merah dan berdandan cantik seperti pada 27 desember-27 desember lain. Seperti pada malam ini, 27 desember 2011…

Kamu, entah mengapa malam ini paling cantik diantara tanggal 27 desember-27 desember lainnya. Menyambangiku di restoran favorit kita, di meja nomor lima.

Apa kamu akan menyediakan jawaban terbaik pada malam ini? Jika iya, kamu beruntung karena aku telah bertemankan sekotak cincin yang akan melingkupi kita berdua. 

Seperti yang kamu tahu, aku tak pernah menyerah akan kamu. Dan kamu tak pernah jera untuk kutanyai. Meskipun pada 27 desember-27 desember sebelumnya kamu menjawab hal yang sama. 

“Fusilli malam ini sempurna,” ucapnya setelah menggiring sesendok fusilli ala-nya ke mulut. Aku tersenyum sambil menatap ke arah pelayan yang mengintip dari balik meja pesanan. Aku menitipkan segurat senyum padanya. 

“Bersulang,” ucapnya ketika aku mengambil ancang-ancang untuk menyatakan…lagi…

Aku kecolongan start. Jika ia sudah mengajakku bersulang, berarti ia sudah mengunci mulutku rapat-rapat. Menutup telinga dan hatinya dari kata cinta. Aku maklum. Masih ada 27 desember-27 desember lainnya di tahun-tahun besok.

***

Sang pelayan mengintip dari balik meja pesanan sambil memberikan centang pada makanan-makanan yang sudah diantar, termasuk fusilli tuna pedas ala Rafika Andari yang sudah diantar ke meja nomor 5. 

“Orang itu…nggak pernah kapok-kapok ya, Mat,” ucap Parjo, salah seorang koki sambil menghidangkan pesanan pada sang pelayan tersebut. 

“Eh…mas,” ucap pelayan itu yang terinterupsi dari kegiatan intip-mengintipnya.

“Tiap tahun, tanggal 27 Desember dia selalu pesen. Di meja nomer lima, nggak boleh meja nomer lain…ngotot dia, Mat.Kalo keinginannya nggak diturutin, bisa diobrak-abrik nih restoran kita,” sahut Parjo.

“Hahaha…” pelayan itu hanya menanggapi Parjo dengan tawa. Bingung harus bereaksi apa.

“Apalagi soal masakan, dia demen banget tuh mesen fussili. Ala Rafika Andari katanya.”

“Emang Rafika Andari siapa?”

“Kagak tau…orangnya aja gue belum pernah lihat.”

“Pacarnya kali.”

“Pacar apaan? Kalo punya pacar mah tiap kali dia makan disini, dia gak bakal sendirian terus.”

“Iya yak, dia sering sendirian kesini tapi pesennya berdua,hahaha….”

“Hahaha…rakus kali tu orang”

“Tapi bang, dia suka ngomong sendiri loh.”

“Waduh…kalo urusan itu gue kagak tau, Mat.”

Comments