Tentang Industri Kreatif Penyiaran
Tulisan ini penulis buat untuk menanggapi #saveikp
Industri Kreatif Penyiaran*
IKP.
Sebuah program studi peminatan dari departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Sebuah program studi belia yang baru saja dibuka pada tahun 2009. Program studi ini merupakan program studi penyiaran untuk jenjang S1. Begitu mendengar program studi ini gue merasakan suatu motivasi yang besar untuk masuk ke program studi ini, meskipun program studi ini merupakan program studi yang minoritas pada awal pembukaannya.
“Prodi IKP isinya cuma 16 orang. Karena di angkatan kami cuma 16 orang yang BERANI masuk IKP,” terang salah seorang senior dari IKP 2009 pada kami yang waktu itu masih menjadi mahasiswa baru ilmu komunikasi.
Motivasi itu semakin membara ketika gue lihat deretan mata kuliah yang ditawarkan oleh program studi ini. Teknik Penulisan Naskah, Teknik Penyutradaraan, Teknik Kamera, Tata Artistik, Tata Cahaya, Tata Suara, Manajemen Stasiun TV,Animasi 3D, dan lain sebagainya yang bikin gue ngiler sampe iler gue bisa ngepelin jalan tol cipularang.
Maka gue bergabung, gue memutuskan untuk benar-benar terjebak dalam dunia yang gue minati. bergabung sesama teman-teman seperminatan. Sebagai program studi peminatan, Industri Kreatif Penyiaran berhasil memenuhi minat gue yang sangat ingin berkecimpung di dunia perfilman. Meskipun IKP berfokus pada penyiaran, bukan perfilman, gue belajar banyak hal tentang perfilman dari IKP. Gue belajar membangun logika berpikir, merealisasikan konsep menjadi nyata lewat video, film, dan program. Dan sebagai esensi dari ilmu komunikasi, gue belajar menyampaikan pesan agar apa yang kita sampaikan diterima dengan baik oleh penonton. Meresap hingga menginspirasi.
Dalam IKP gue menemukan ilmu yang bermanfaat, dosen yang baik, dan teman-teman yang hebat. Berkali-kali produksi walaupun dalam hitungan jari membuat kami semakin dekat, semakin tahu sifat masing-masing karena syuting adalah sebenar-benarnya teambuilding. Kami melewatkan banyak momen-momen bersama. Syuting sampai malam, wara-wiri masukkin film ke festival, tertawa bersama, nangis bersama, ditekan bersama, dikejar deadline bersama, melipat kain besar satu kelas, bikin properti bersama di hari libur, dan sederet kebersamaan lainnya.
Ada yang bilang bahwa IKP masih bias antara penyiaran atau perfilman. Jika IKP lebih diartikan sebagai perfilman, sang penyampai pesan itu bilang bahwa IKP lebih baik ditutup karena IKP masih belum siap untuk ukuran perfilman.
Bagi gue, ini bukan masalah siap atau nggak siap. Ini masalah seberapa besar kemauan kita untuk belajar. dari. nol.
Program studi lainnya pada awal dibentuk, bukannya masih belum siap juga untuk menyediakan bekal untuk para mahasiswanya? bukannya masih belum siap juga untuk melepas para mahasiswanya jadi jurnalis handal misalnya? jadi humas handal misalnya? jadi pengiklan handal? atau jadi media analisis handal?
Semua berproses.
Dan IKP sedang berada dalam awal proses itu.
We’re on our way to success
Dan semuanya nggak hanya bergantung sama dosennya yang katanya masih belum S2 semua, nggak hanya bergantung sama dosennya yang kebanyakan praktisi sehingga susah untuk mengatur waktu mengajar, nggak hanya bergantung sama fasilitas lab audio visual yang belum mumpuni, nggak hanya bergantung dari sedikitnya mahasiswa yang berminat pada program studi ini.
Kalau terus menyalahkan hal itu, kita sama saja dengan menciptakan batu-batu besar yang menghalangi jalan kesuksesan kita yang akhirnya membuat kita berhenti berjalan.
Teman-teman, gue jelaskan:ini bukanlah tulisan kampanye, gue hanya ingin menanggapi #saveikp
Gue hanya prihatin jika program studi IKP sampai ditutup karena nggak memenuhi kuota mahasiswa. Gue jadi inget cerita laskar pelangi. Kalau SD Muhammadiyah Gantong ditutup, mungkin nggak SD Muhammadiyah Gantong bisa menang lomba cerdas cermat?
Bisa membesarkan murid-murid cerdasnya seperti Ikal, Lintang, dan teman-temannya?
Gue cuma kasihan aja sama temen-temen komunikasi 2011 yang berminat masuk IKP. Jangan sampai terjebak ke dunia yang bukan lo banget.
Buat temen-temen komunikasi 2011, penuhi minat lo semua. Bagi yang berminat jadi jurnalis masuklah jurnalisme, yang berminat jadi humas masuklah humas. yang berminat di dunia advertising masuklah periklanan, yang berminat di dunia komunikasi media masuklah komed, yang berminat di dunia penyiaran masuklah IKP.
kalo kata temen gue, Aziz, Follow your passion and every good thing follows you.
Akhir kata tentang IKP: IKP memang belum ideal tapi esensial
Selamat terjun ke ‘dunia lo’ teman-teman. Ayo kita berenang bersama, berkecimpung memberikan yang terbaik.
Semoga menjadi figur-figur yang mendunia namun tetap memiliki pribadi yang membumi:)
*penulis adalah mahasiswi yang sering melakukan kesalahan dan sedang dalam proses belajar
5 notes
Comments
-
namasayakinsi liked this
-
queencup reblogged this from widyarifianti and added:
melihat kalianyang paling commit (baca: SOLID) :) go IKP!
-
queencup liked this
-
milipiano reblogged this from widyarifianti
-
erhyme said:
emang jadinya mau ditutup wid? se-fix itu? kalo ditutup terus kalian gimana? nggak dipaksa pindah prodi kan? ._.
-
widyarifianti posted this

