#Prose:High School Never Ends (Part I)

Bangun pagi itu nikmat*

*terms and conditions apply

asal…bangunnya nggak dipaksa dan terbangun karena mimpi indah yang sudah sampai endingnya. Pagi ini, gue nggak mendapatkan keduanya. Gue bangun pagi karena dipaksa bangun ama nyokap. Untuk yang satu ini, gue nggak terlalu menyesal sih karena jeritan nyokap yang ultrasonik itu berhasil menyelamatkan gue dari nightmare yang sepertinya nggak berkesudahan.

Let’s make it simpler…bangun pagi gue kali ini nggak nikmat.

berbeda dengan bangun pagi-bangun pagi gue sebelumnya mengingat sebulan silam gue menghabiskan waktu liburan panjang. Gue rasa dinas pendidikan kota manapun punya alasan untuk membuat interval waktu liburan anak-anak SMP yang baru lulus SMP lebih panjang dari biasanya. pertama, mereka harus berjuang cari tempat menuntut ilmu baru dan daftar ulang di SMA tersebut (itu juga kalau NEMnya mencukupi). Kedua, mereka butuh masa transisi dari putih biru ke putih abu-abu. Bagi yang cowok, mereka butuh waktu untuk membiasakan lutut seksi mereka tertutup kain yang lebih panjang. Bagi cewek, lain lagi. Meskipun mereka kayaknya tetap memakai posisi yang sama ketika buang hajat, mereka harus membiasakan diri untuk memakai rok span dengan satu stooploi yang mana hal tersebut bakal bikin ruang gerak mereka lebih terbatas daripada ketika memakai rok span biru dongker dengan dua stooploi

Tapi tentu tidak secemen itu indikator transisi anak-anak SMP di Indonesia. Mereka dihadapkan pada beban mental baru: jadi anak SMA. Otomatis tanggung jawabnya lebih besar. 

Anak SMA tetap sekolah di sekolah menengah, tapi menengah atas. Di masa ini, harusnya anak SMA sudah terbiasa mengalami masalah pubertas yang menurun ke hati. Mengatasi bagaimana rasanya cinta yang turun dari mata ke hati dan berakhir dari hati ke air mata. Harusnya…

Harusnya gue akan seperti itu. 

Mengatasi masalah hidup dengan lebih canggih, nggak secemen nabokin musuh, nggak secemen buka contekan pas waktu ulangan, nggak secemen ngutang ama ibu kantin ketika nggak punya uang.

Dan inilah gue, Adit. 15 tahun.

baru lulus SMP, baru selesai liburan, dan akan menghadapi hari pertamanya di SMA.

Sekolah Menengah Atas.

***

“Dit, kamu yakin nggak mau pake baju putih abu? Padahal Mama udah beliin tuh,” ucap Nyokap yang udah bekal satu stel seragam buat gue. Gue lihat jok belakang mobil gue yang didiami satu stel seragam SMA. Gue menggeleng sambil memperhatikan situasi di depan sekolah baru gue, “Orang belum disuruh, Ma…Ntar aja kalo panitia OSPEKnya ngebolehin baru Adit pake seragamnya…”

Nyokap mengangguk.

“Ati-ati ya, Dit…” ucap Nyokap sebelum gue keluar mobil. Gue mencium tangannya dan dia ngotot pengen cium pipi gue. Asalnya gue mengizinkan nyokap melakukan itu, tapi gue batalkan izin itu ketika gue lihat seorang cowok seumuran gue dengan baju putih biru memarkir motornya di depan mobil gue, melepas helmnya dengan macho, dan terlihat seperti anak keren yang siap hidup. kontras dengan gue yang berada di bawah belaian nyokap. 

“Aku buru-buru, Ma…” kata gue sambil buru-buru menutup pintu mobil. Samar, gue denger Nyokap manggil nama gue. Sori Ma, let me be a man.

Gue berlari sekencang-kencangnya ke pintu gerbang SMA gue. Desauan angin berhasil gue hirup. angin antusiasme dan harapan. Berpuluh kaki yang berbalut kain biru dongker berjalan beriringan bersama gue untuk memasuki sebuah aula besar tempat kami dikumpulkan.

Gedung tempat semua ini bermula. Gedung yang sudah terlebih dahulu dipenuhi oleh sekelompok kakak-kakak bertampang sangar. Gue benci ini, tapi gue harus melewatinya.

“Selamat datang di OASIS SMA Negeri 212 Jakarta…” ucap salah seorang kakak yang bertampang paling ramah di antara semua panitia ospek yang sudah berjejer rapi di hadapan kami. Macam cheerleader, Gue rasa mereka pasti udah latihan berkali-kali untuk membentuk formasi serapi itu.

Ternyata mereka mengganti kata OSPEK dengan OASIS. Orientasi dan Pengenalan Lingkungan Siswa.

Gue menanti kata demi kata selanjutnya yang keluar dari mulut senior-senior gue itu sambil menatapi lingkungan di sekeliling gue dan mata gue menangkap seorang cowok yang familiar bagi gue, cowok yang memarkir motornya di depan mobil nyokap tadi. 

Gue langsung mencari pemandangan lain. Nggak etis rasanya kalo pemandangan pertama yang gue temukan di sekolah baru gue ini adalah cowok. Gue mencari cewek dengan posisi terdekat dengan gue. Dan benar saja, pemandangan mata gue berhenti pada seorang cewek berwajah oriental, berkulit kuning, tubuh berisi, dan bibir yang tipis. Cewek itu menghampiri gue dari posisi awalnya.

“Hey, FOKUS DEK! Hargai orang yang lagi bicara di depan kalian!” teriaknya. Gue mengamati rok yang dia pakai. abu-abu. Sial, cewek cantik ini senior gue. Tapi boleh juga lah.

Gue mengangguk takut menanggapi teriakannya. Ia pergi dari hadapan gue dan meninggalkan kesan yang mendalam pada diri gue. Sejurus kemudian, Sang kakak dengan wajah paling ramah yang sibuk berkoar-koar di hadapan kami memperkenalkan dirinya. Namanya Rangga, dia ternyata ketua OASIS. Kalau melihat dari air mukanya, sepertinya ospek SMA ini akan berjalan dengan tenang. Setelah mengeja nama panjangnya dan jabatannya, ia menyerahkan giliran pada panitia-panitia OASIS di sampingnya. Semua panitia saling memperkenalkan dirinya masing-masing. Gue tetap skeptis. Mau namanya Jolie kek, Raminten kek, bodo amat asal lo jangan galak-galak sama gue. Tapi, telinga gue seperti corong air seketika ketika cewek tadi maju selangkah lebih depan dari posisinya dan memperkenalkan diri,

“Gue Sasti…Koordinator Tata Tertib.”

Sasti, nama yang bagus.

Dia kemudian mundur dan kembali ke posisinya, masih dengan tampak jutek yang konstan. “Siapa tadi namanya?” tanya seorang cowok di samping gue. “Sasti,” bisik gue yang mengantisipasi semprotan senior untuk kedua kalinya. “Aci?” tanya cowok itu. Gue rasa ada yang salah dengan kupingnya.

“Sasti,” bisik gue lebih keras.

“FOKUS DEK!” kali ini gue dan cowok annoying di samping gue kena damprat senior. unfortunately, dampratan itu bukan datang dari Sasti tapi dari temannya yang sangar. Tubuh yang kekar, wajah yang garang, dan bulu lengannya yang lebat menjadi alasan bagi junior manapun untuk pipis di celana. 

Mau tidak mau, semua mata tertuju pada gue dan cowok di samping gue. 

“Kalian berdua ikut saya!” teriak si Kakak sangar itu. Firasat nggak enak dan benar saja. Gue dan si teman samping gue kebagian sesi ceramah dari si kakak lengkap dengan kuahnya di ruangan rahasia samping aula. Mengapa gue panggil ruang rahasia? karena ini ruangan agak epik. Gelap, creepy, dan bau. Membuat gembong teroris manapun melirik tempat ini sebagai tempat yang potensial buat sembunyi.

Seusai ceramah, si kakak rupanya ingin menguji kemampuan jasmani kami. Maka push up lah gue dan si cowok samping gue di lantai sekolahan yang dingin dan nggak sampai hitungan ke dua lima, kami udah tepar. Gue lupa kalau selama liburan kerjaan gue kayak kebo tangkar. Tidur, makan, berendam di air anget. Nggak kenal sama yang namanya olahraga, apalagi push up. Terakhir gue push-up pas waktu ujian akhir SMP yang mana itu lebih dari sebulan lalu. Si cowok samping gue pun ternyata sama aja, awalnya dia mau maksain push-up tapi sebelum hitungan dua puluh enam dia tepar juga. 

“Jadi cuma segini kemampuan kalian?” tanyanya.

“Nggak kak,” si cowok samping gue mendadak bangkit, dengan sok cool dia mencoba melanjutkan push-up tapi belum kelar ngangkat pantat, dia udah nyium lantai lagi. Memang kadang niat tak berjalan lurus dengan kemampuan fisik.

“Kak, kita mohon maaf kak. Kita ngaku salah, saya nyerah kak dengan hukuman ini…” kata gue.

“Saya?”

“Iy-Iya Kak…”

“Yaudah lo boleh balik ke aula,” ucap si kakak.

“Saya kak?”

“Iya, kan tadi lo bilang lo capek?”

“Dia…?” tanya gue sambil menunggu cowok di samping gue.

“Lah, dia kan katanya masih kuat ya dia tetep disini lah…”

“Tapi Kak…”

“Udah lo balik aja sana ke aula!”

“Kak…”

dan selanjutnya gue tetap berargumen dengan si kakak, for the sake of nggak tega liat muka si cowok itu yang dengan sok coolnya nyoba push-up tapi tetep gagal karena nggak kuat. Dan setelah panjang beradu argumen, gue akhirnya berhasil menemukan satu kata yang membuat si kakak luluh dan ngizinin gue bawa tuh anak cowok balik bareng gue ke aula: teman.

Dia nanya, kenapa gue bisa yakin kalo tuh cowok adalah temen gue padahal gue dan tuh cowok belom tau nama satu sama lain. Gue langsung jawab, “karena kita satu angkatan, kita berteman. Kita satu sekolah, kita berteman. Dia teman baru saya, Kak…” ucap gue tanpa tedeng aling-aling.

“Lo berdua balik ke aula sekarang,” katanya. Mendadak tampang sangarnya mencair, tubuh kekarnya tampak biasa dan tidak menunjukkan ancaman sama sekali, dan bulu-bulu di lengannya seolah rontok seketika.

Akhirnya gue dan si cowok samping gue berjalan beriringan menuju aula, dia menatap gue aneh sebelum ngucapin kata makasih. 

“Gue Jemi, lo?” tanya dia.

“Gue Adit,” jawab gue.

Jemi. teman baru di sekolah baru.

Dan belom berganti hari, gue udah menemukan panggilan baru buat dia: kunyuk satu atas tingkahnya yang berhasil membuat semua orang lempar bata sembunyi tangan ke tuh orang.

So, There will be another kunyuk?

We’ll see

Comments